Friday, January 27, 2012

Married couples that are forced to live apart


I flipped through newspaper and happend to encounter an article that closely related to me. The tittle was ‘Married Couples that are Forced to Live Apart’. I am totally agree with the article and decide to bring up this particular issue as a point to ponder upon and as an awareness of how the policies has been created regarding this matter in our country.

The issue was married couples living separately such as husband and wives who live and work in different states. The concerns were duplication of house rental, utility bills, transportation costs and entertainment. Every weekend, either partner will travel long distances to be with their spouses and children. Even worse, that separation between west-east Malaysia only allows either partner to travel less frequent due to the higher cost they have to spend (which is in my case).

The writer also brought up the social problem aspect. Being alone the whole week may sometimes lead to unwanted relationship and unnecessary problems which the writer admits it happended to their close friends. This point highly related to the strong faith you are hold to and how this may influence you to be steadfast to the guideline made by God. Or else, love alone may not promise everything.

The writer than suggest those in public sector be relocated somewhere closer or in the same department if possible as this may help to bring down their monthly expenses.

As for me, daily cost wise may not be my priority of concern even i agree with the statement. When looking into this matter, i understand that marriage brought the two persons to be together and support each other emotionally, physically and spiritually and as a Muslim, a partner to help us to be in the path that make us closer to Allah while at the same time support the fitrah or instinct to live with ‘someone’.

According to Quran, the word of God,

“And among His signs is that He created for you mates from among yourself, that you may dwell in tranquility with them and He has put love and mercy between your hearts: verily in that sign for those who reflect” [Ar-Rum 30:21]

And the Prophet peace be upon him said:

“Everyone of you is incharge and everyone will be accountable for those given in his charge..The wife is responsible for taking care of the home of her husband and his children, and she will be accountable for them.”

This is guideline in Islam. My point of view, the issue of separating husband and wife shall not be taken lightly or this may ruin the most fundamental instituition to build a better nation in the future. Where is the proof of saying ‘Family First’ or ‘Utamakan keluarga’ by the Ministry of Women, Family and Community Development?

I know it would not be possible to accomodate all couples but at least i hope to see improvement in policy making regarding the issue. On what basis the reasons are, if we put thing back where it suppose to be, we will able to arrange the system accordingly.

As for me, being a wife and gov-bonded civil servant, it put me in lose-lose situation whether to quit and pay RM 110,000 or living thousand kilometres far apart from my husband. To my suprise, even i have updated my new status prior to the board meeting, still ive been posted to west Malaysia whereas my other few single friend were placed at Klang Valley and east Malaysia.

As a Muslim, i believe there is always good thing lies behind and try to be positive and effective in what im doing as this is ‘amanah’ or responsibility. While at the same time, i believe that raising this issue is also my duty and should be priority of concern if we were to build a better people in the future.

p/s: Happy Anniversary 1 year of marriage to me and hubby according to Islamic calender (2 Rabiulawwal 1432-1433). May Allah shower His blessing in our relationship, always.

Saturday, January 7, 2012

ERTI PERTEMUAN


Pemandangan gelap malam melalui tingkap kapal terbang bagai selari dengan rasa yang mengalir perlahan dalam hatiku. Selamat tinggal kuala lumpur, lebih tepat lagi selamat tinggal buat suamiku, moga ada kesempatan pertemuan bulan depan. Pertemuan singkat 3-4 hari sebulan merupakan masa yang amat berharga bagi kami, kualiti masa diberi perhatian memandangkan pupus kuantiti masa dalam kamus hidup pasangan yang dipisahkan atas nama tuntutan alam pekerjaan hari ini.

Atas asbab kontrak kerajaan, aku terpaksa akur dengan ketetapan yang menuntut aku berjauhan dengan suami. Bagai halilintar menerjah aku terkesima sementelah menelan pahitnya berita. Sememangnya ada madu disebalik pahit hempedu yang ketika ini aku masih cuba memahami, yakin.

Memahami bagaimana untuk ‘menyingkap’ perihal pasangan suami isteri berjauhan kini, ilmu melalui sedikit pembacaan beserta gerak hati menuntunku mengambil jalan ‘menyikapi’ perkara ini demi pedoman masa hadapan. Untuk itu, kupetik tulisan Khalid Baig, First thing first sebagai salah satu sudut pandang.

Kesimpulan dari diriku, tidak kira apa pun keputusan yang diambil wanita pada hari ini atas nama apa pun, setiap kita perlu ada mindset ‘family first’. Apabila keadaan meletakkan keluarga atau lebih tepat lagi anak dalam keadaan berisiko, tindakan pantas, keputusan tekad perlu dibuat kerana wanita itu dipertanggungjawabkan atas rumah suaminya dan anak-anak suaminya. Nah, wanita islam punya panduan. Jangan gagal mengambil ubat sebenar yang berada di depan mata dek tergoda dengan jiran sebelah yang tampak sihat luaran sedangkan dalamnya menderita nanah akibat kesilapan mengambil ubat yang salah.

Buat yang mempunyai suami disisi, ambil masa memahami, memberi, dan menyayangi. Biar masa gelombang bah datang sementara, rasional iman mampu membenteng emosi. Genggam erat yang manis, yang baik, yang penyabar, yang selalu membimbing, yang melindungi itu atas pinjaman barakah dari yang RAHMAN dan RAHIMNYA ALLAH.

HAK BAYI ITU


Imron bin al-Husain al-khuza’iy berkata, Seorang wanita dari suku Juhainah telah mengaku berzina dan mohon Rasulullah s.a.w membersihkannya dengan hukum hudud. Rasulullah menolak pengakuannya dan menyuruh pulang.

Kemudian beliau datang lagi dan mendakwa telah hamil. Rasulullah s.a.w sekali lagi menyuruhnya pulang dengan mewasiatkan kepada wali wanita tersebut untuk memelihara kandungan tersebut dengan baik dan kembali setelah melahirkan.

Setelah melahirkan, sekali lagi Rasulullah s.a.w menyuruhnya pulang dan menyusui sehingga anaknya berhenti menyusu.

Setelah itu, wanita itu datang dengan membawa anaknya yang telah berhenti menyusu, ditangan anak tersebut ada secebis roti.


Kemudian Rasulullah s.a.w menjalani hukum rejam terhadap wanita tersebut itupun setelah seorang lelaki bersedia menguruskan hal penyususn bayi tersebut.

Diriwayatkan juga, semasa rejaman, terdapat sahabat yang membaling batu dengan kasar namun perbuatan tersebut ditegur Rasulullah s.a.w yang dengan tegas mengakui kesungguhan taubat wanita tersebut yang menyamai taubat 70 orang Madinah ketika itu.

(Hadith ini daripada Sulaiman Bin Buraidah diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Ad-Dar Qutni. Lihat Nailul Awtar 7/123. Ia merupakan hadith yang shohih.

Terkesima, terpana..betapa Islam memelihara hak walau sekecil bayi itu untuk mendapatkan full breastfeeding sehingga ke ‘weaning’ diet. Hinggalah dari aspek yang lain memelihara hak Allah iaitu hudud. Kerana Allah yang mencipta, yang memelihara, yang memberi nikmat. Masakan kita bisa meracuni diri dengan perbuatan menyalahi tujuan penciptaan. Namun, setelah hak Allah itu dilaksanakan, nah, kita bebas dari hukuman mencengkam di akhirat kelak. Malah, taubat yang didasari dengan keimanan dan redha atas hukuman membawa kita menghadapNya dengan keadaan bersih InsyaAllah. Serentak dengannya, maka turunlah rahmat Allah menyelamatkan masyarakat dengan menurunkan ketakutan ke dalam hati-hati manusia yang berniat melakukan maksiat tersebut. Rawatan ‘outside to inside’ itu secara tidak langsung menyebabkan hak masyarakat turut terpelihara setelah keimanan atau pencegahan ‘inside-out’ dibina sebelumnya .

Cantiknya Islam itu jika difahami secara fundamental dan konteks berteraskan wahyu, bukan rasional akal semata!.